Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?(Al Mukminuun:115)
Belakangan ini di Indonesia ramai sekali membahas tentang kebebasan, khususnya kebebasan dalam berkeyakinan. adanya penolakan konser Lady Gaga beberapa waktu lalu, dinilai beberapa pemerhati HAM sebagai bentuk dari keterbatasan kebebasan di Indonesia, penolakan kedatangan Insyad Manji, seorang Lesbian yang membuat buku yang mencemarkan nama baik Islam juga dinilai tidak konsisten dengan komitmen kebebasan yang didengungkan pemerintah Indonesia, dan lucunya, kebebasan-kebebasan yang diangkat ini adalah kebebasan yang irrasional, bahkan pelakunya dari golongan yang sama, orang-orang liberal dan sekuler. lantas bagaimana kita menempatkan definisi 'kebebasan' pada tempat yang sebenarnya?
Belakangan ini di Indonesia ramai sekali membahas tentang kebebasan, khususnya kebebasan dalam berkeyakinan. adanya penolakan konser Lady Gaga beberapa waktu lalu, dinilai beberapa pemerhati HAM sebagai bentuk dari keterbatasan kebebasan di Indonesia, penolakan kedatangan Insyad Manji, seorang Lesbian yang membuat buku yang mencemarkan nama baik Islam juga dinilai tidak konsisten dengan komitmen kebebasan yang didengungkan pemerintah Indonesia, dan lucunya, kebebasan-kebebasan yang diangkat ini adalah kebebasan yang irrasional, bahkan pelakunya dari golongan yang sama, orang-orang liberal dan sekuler. lantas bagaimana kita menempatkan definisi 'kebebasan' pada tempat yang sebenarnya?






