Kita
semua tentunya paham, bahwa manusia diciptakan di dunia secara
berpasang-pasangan. Bagi wanita telah berumur, mereka mengerti bahwa sejatinya
mereka ini adalah bagian dari tulang rusuk seorang lelaki tertentu yang kelak
dipertemukannya menjadi seorang suami baginya, begitupun pria. Namun sebelum
pernikahan itu terjadi, perihal jodoh, pasangan hidup, itu semua masih bersifat
abstrak, alias secara subyektif kita tidak diberitahukan siapa jodoh kita
nantinya. Oleh karena itu diperintahkanlah kita untuk senantiasa berikhtiar
dengan tidak melepas tawakal kepada Allah untuk mencari pasangan hidup kita
itu, dengan satu pegangan kuat bahwa orang baik akan mendapatkan pasangan yang
baik pula, begitu juga sebaliknya. Oleh karena kita mendapatkan satu gambaran
yang lebih konkret dari sebelumnya bahwa pasangan hidup kita nantinya ternyata
adalah suatu refleksi dari keadaan kita. So, sebaiknya kita berusaha menjadi
sosok idaman yang sempurna untuk mendapatkan pasangan yang sempurna.
Thursday, June 5, 2014
Friday, May 9, 2014
Jangan (dulu) Bangga Punya Anak Penurut
A: jeng,
putra jengenan itu lho, kok nurut banget ya sama ortunya, gak kayak anak saya,
susah banget diaturnya.
B: lha
iya jeng, wong kalo dia gak nurut ya langsung
dipukul sama bapaknya.
Siapa sih
yang gak pengen punya anak penurut, kalo di rumah gak banyak tingkah laku, kalo
disuruh langsung dikerjakan, dan gak sering bikin onar atau masalah baik waktu
di rumah atau di luar. Orang tua pasti mendambakan mempunyai anak yang pinter,
penurut, hormat sama orang tua, dan membanggakan keluarga, sudah bisa ditebak
pasti ketika dewasa nanti dia menjadi orang besar atau sukses. Ya, seperti
itulah pengamatan yang saya dapat dari orang-orang dekat mengalami hal seperti
itu, sayangnya tidak semua anak bisa diperlakukan seperti itu. Lihatlah contoh
berikut ini,
Jika Aku Seorang Ayah
- Berusaha menjaga hubungan yang baik dengan anak sebagai seorang yang begitu dekat namun tetap dihormati. Sering berbincang, ikut serta kegiatan anak dan tidak malu untuk memasuki dunianya menjadi kunci keakraban antara anak dengan ayah, kita sadar bahwa apa yang dibutuhkan anak tidak hanya sekedar materi, karena hakikatnya materi hanya sebagai pengganti peran ayah saat tiada atau pelengkap kehidupannya, sebaik-baik tempat berkembang anak hanyalah orang tua, meski minim materi, itu cukup untuk membuatnya bahagia. Tapi jangan harap kalau sejak awal anak sudah diberikan kemewahan materi, maka peran ayah sudah tak lagi dibutuhkan dan tergantikan materi itu, akibatnya perkembangan anak menjadi tidak seimbang, dimana ketika mereka tumbuh dewasa nanti mereka hanya memandang segala sesuatu dari nilai materi, menganggap materi itu sebagai kunci kebahagiaan, bukan kasih sayang, so, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sifat itu pun akan menurun pada anak.
Andai Allah mengijinkan aku untuk menjadi seorang ayah nantinya, InsyaAllah aku akan......
Satu Saat Nanti
Salah
satu moment yang paling aku sukai akhir-akhir ini adalah duduk sendiri di
balkon atas belakang tempat kos. Dari
atas sana kita bisa melihat orang-orang lalu lalang mengendarai motor, kita
juga leluasa melihat sawah yang hijau terbentang meski lama-kelamaan terkikis
oleh bangunan-bangunan kos yang menjulang, namun jika berada di tempat itu saat
malam, itu rasanya seperti merefleksikan suasana hati sendiri. Gelap, dan cukup
sunyi, hanya sedikit cahaya kelap-kelip dari sorot lampu motor ataupun lampu
bangunan kos. Desiran angin malah yang cukup kuat seolah mampu meniup kekalutan
hati yang sedang dialami. Tenang, perlahan membiarkan fikiran melayang lalu
bergerak melukis angan dilangit gelap nan tinggi menjulang itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)




