Memandang jam dinding di tembok kamar kos ini, merasakan pergantian
hari demi hari yang begitu cepat membuatku sekejap ingin berfikir tentang
sketsa kehidupan ini. Dimana setiap hari
kita melalui tiap fase kehidupan masing masing dengan begitu berat, pahit.
Terkadang menyesakkan. Namun ketika kita beranjak kepada fase yang lain. Kita
merasakan betapa menyenangkannya memikirkan saat-saat itu. Sebagai bagian dari
kehidupan kita. Slalu ada cerita dan slalu menjadi kenangan. Tapi apakah itu bisa
disebut kenangan jika kita masih saja terhenti pada satu fase dan belum juga
beranjak pergi. Meskipun waktu meloncengkan alarm peringatan, meskipun secara
fisik kita sudah harus berpindah fase, namun kita masih disini. Menjadi
seseorang yang tertinggalkan. Apakah itu juga merupakan satu kenangan?
Entahlah.Saturday, January 24, 2015
Kos Bina Taqwa dan Sepenggal Kisah
Memandang jam dinding di tembok kamar kos ini, merasakan pergantian
hari demi hari yang begitu cepat membuatku sekejap ingin berfikir tentang
sketsa kehidupan ini. Dimana setiap hari
kita melalui tiap fase kehidupan masing masing dengan begitu berat, pahit.
Terkadang menyesakkan. Namun ketika kita beranjak kepada fase yang lain. Kita
merasakan betapa menyenangkannya memikirkan saat-saat itu. Sebagai bagian dari
kehidupan kita. Slalu ada cerita dan slalu menjadi kenangan. Tapi apakah itu bisa
disebut kenangan jika kita masih saja terhenti pada satu fase dan belum juga
beranjak pergi. Meskipun waktu meloncengkan alarm peringatan, meskipun secara
fisik kita sudah harus berpindah fase, namun kita masih disini. Menjadi
seseorang yang tertinggalkan. Apakah itu juga merupakan satu kenangan?
Entahlah.Dont give up
Hidup terkadang berasa memuakkan, saat waktu kita berjalan sama
cepat. Namun yang lain lebih memiliki pencapaian, sedang kita seolah diam
ditempat. Semua manusia paham kita sedang berjalan menuju Tuhan. Jadi apapun
yang kita lkitakan, seharusnya melihat apa kata Tuhan. Tak perlu
terpengaruh dengan manusia. Namun saat
sebagian dari mereka memuji sebagian dari yang lain dan kita memiliki usia yang
sama. Pujian itu seakan berbelok menjadi sindirin dan mengejar ke arah kita.
Pedas di mata, pedas juga di telinga.
Tiada hidup tanpa pergaulan. Sungguh betapa nikmatnya hidup ketika
kita bisa mengobrl hangat dengan teman diselingi candaan-candaan kecil yang
jauh dari keseriusan. Namun ketika arah pembicaraan mereka berubah menjadi
tanya jawab tentang pencapaian-pencapaian yang mereka sedang kejar atau baru
saja di dapatkan. Itu seolah menjadi wrong seat bagi kita. Tak terasa kursi
kita semakin menjauh-lalu menjauh dan perlahan kita beranjak pergi meninggalkan
mereka dan tak ingin kembali. Selamat tinggal obrolan hangat.
Tetaplah Tersenyum
Cobaan datang dan pergi silih
berganti
Hingga membuatmu lupa mengapa semua
ini terjadi.
Seolah begitu berat beban hidupmu
Kau menangis tersendu sendiri.
Kemana kini perginya cahaya dari wajahmu
Yang selalu menyejukkan hati…
Mengapa sekarang mendung
menyelimutinya..
Wajahmu begitu sendu pilu..
Subscribe to:
Posts (Atom)




