Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Saturday, January 24, 2015

Kos Bina Taqwa dan Sepenggal Kisah

Memandang jam dinding di tembok kamar kos ini, merasakan pergantian hari demi hari yang begitu cepat membuatku sekejap ingin berfikir tentang sketsa kehidupan ini.  Dimana setiap hari kita melalui tiap fase kehidupan masing masing dengan begitu berat, pahit. Terkadang menyesakkan. Namun ketika kita beranjak kepada fase yang lain. Kita merasakan betapa menyenangkannya memikirkan saat-saat itu. Sebagai bagian dari kehidupan kita. Slalu ada cerita dan slalu menjadi kenangan. Tapi apakah itu bisa disebut kenangan jika kita masih saja terhenti pada satu fase dan belum juga beranjak pergi. Meskipun waktu meloncengkan alarm peringatan, meskipun secara fisik kita sudah harus berpindah fase, namun kita masih disini. Menjadi seseorang yang tertinggalkan. Apakah itu juga merupakan satu kenangan? Entahlah.

Melukis Suara,

Awalnya,
kugariskan sekat tanpa warna.
Lalu Membiarkan Sejenak tanganku menari ..
Merayu intuisi ungkapkan isi hati..
Namun kosong,,,,

Sayang,
Tak jua terukir gambar kehidupan ini..
Hanya hitam, dan merah tinta ini..
Bercampur sendu menjadi abu
Dan tak kutemui warna cerahnya..

Dont give up

       Hidup terkadang berasa memuakkan, saat waktu kita berjalan sama cepat. Namun yang lain lebih memiliki pencapaian, sedang kita seolah diam ditempat. Semua manusia paham kita sedang berjalan menuju Tuhan. Jadi apapun yang kita lkitakan, seharusnya melihat apa kata Tuhan. Tak perlu terpengaruh  dengan manusia. Namun saat sebagian dari mereka memuji sebagian dari yang lain dan kita memiliki usia yang sama. Pujian itu seakan berbelok menjadi sindirin dan mengejar ke arah kita. Pedas di mata, pedas juga di telinga.

Tiada hidup tanpa pergaulan. Sungguh betapa nikmatnya hidup ketika kita bisa mengobrl hangat dengan teman diselingi candaan-candaan kecil yang jauh dari keseriusan. Namun ketika arah pembicaraan mereka berubah menjadi tanya jawab tentang pencapaian-pencapaian yang mereka sedang kejar atau baru saja di dapatkan. Itu seolah menjadi wrong seat bagi kita. Tak terasa kursi kita semakin menjauh-lalu menjauh dan perlahan kita beranjak pergi meninggalkan mereka dan tak ingin kembali. Selamat tinggal obrolan hangat.

Tetaplah Tersenyum

Kau tahu hidup memang tak seindah mimpi,
Cobaan datang dan pergi silih berganti
Hingga membuatmu lupa mengapa semua ini terjadi.
Seolah begitu berat beban hidupmu
Kau menangis tersendu sendiri.

Kemana kini perginya cahaya dari wajahmu
Yang selalu menyejukkan hati…
Mengapa sekarang mendung menyelimutinya..
Wajahmu begitu sendu pilu..

--->>>>> xXxXxXx [ [ [ PreNz 'n Fanz ] ] ] xXxXxXx <<<<<--